Senin, 03 Maret 2008

Berpikir Kritis dan Pengembangannya

PENGEMBANGAN BERPIKIR KRITIS
DI KALANGAN MAHASISWA*

Oleh: Didin Wahidin**

A. Mengapa Perlu Berikir Kritis

Belum lenyap dari pikiran kita, bagaimana mahasiswa di seluruh negeri ini bahu-membahu untuk melumat meluluhlantakkan ketidakterbukaan, ketidakjujuran, ketidakadilan dan pengabaian terhadap hak-hak azasi manusia baik berupa korupsi, kolusi, kronysme ataupun nepotisme yang dengan kukuh mencengkeram kehidupan kita selama hampir setengah abad.


Dengan berbagai bentuk pernyataan dan kritikannya mereka dengan berbagai cara mengumandangkan reformasi dalam keseluruhan aspek kehidupan bangsa (reformasi total) ke relung hati seluruh komponen bangsa, hingga negara dan bangsa kita mengalami fase perkembangan yang kemudian kita kenal dengan fase atau era reformasi yang kini tengah kita jalani bersama.

Rasanya tidak dapat dipungkiri bahwa selain karena nilai-nilai moral dan keyakinan akan kebenaran yang mereka perjuangkan, inipun antara lain disebabkan karena mereka telah melakukan proses berpikir yang dikenal dengan berpikir kritis.
Beberapa alasan lain yang menggambarkan betapa pentingnya proses berpikir kreatif ini untuk dikuasai mahasiswa antara lain adalah :

Pertama, tampaknya sangat perlu disadari bahwa sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, informasi yang akan sampai kepada mahasiswa akan makin banyak ragamnya, baik sumber maupun esensi informasinya. Ini memiliki konsekuensi bahwa mahasiswa dituntut untuk memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah informasi yang mana yang dapat diaanggap sebagai informasi yang baik dan benar hingga dapat dia terima untuk memperkaya hazanah pemikirannya dan informasi yang mana yang hanya sekedar sampah (rubbish, kata jendral kita )
Kedua, seperti yang dikemukakan di atas, mahasiswa ternyata merupakan kakuatan yang berdaya tekan tinggi, karena itu agar kekuatan itu daat terarahkan ke arah yang semestinya maka mereka perlu dibekali kemampuan berpikir yang memadai selain komitmen terhadap moral.

Ketiga, perlu kiranya juga dipahami bahwa mahasiswa adalah sedikit warga negara yang memiliki suratan takdir yang baik yang dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, mereka adalah makhluk elit intelektual calon ilmuwan, tentu saja setiap calon ilmuwan mesti memiliki kemampuan berpikir (deduktif, induktif, reflektif, kritis dan kreatif) yang memadai agar kelak mampu berkiprah dalam mengembangkan bidang ilmu yang ditekuninya. Mereka jangan sampai kelak menjadi ilmuwan semu.
Keempat, mahasiswa adalah warga masyarakat yang kini maupun kini dan kelak akan menjalani kehidupan yang makin hari makin kompleks, ini pun menuntut mereka untuk memiliki kemampuan berpikir kritis dan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya secara kritis.

Kelima, berpikir kritis adalah kunci menuju berkembangnya kreativitas. Ini dapat diartikan bahwa awal munculnya kreativitas adalah karena secara kritis kita melihat fenomena-fenomena yang kita lihat dengar dan rasakan maka akan tampak permasalahan yang kemudian akan menuntut kita untuk berpikir kreatif.

Keenam, banyak lapangan pekerjaan yang baik langsung maupun tidak, membutuhkan kemampuan kritis. Misalnya untuk menjalani kehidupan sebagai pengacara maka berpikir kritis adalah kunci keberhasilannya. Menjadi guru juga demikian tentu juga bidang-bidang lainnya.

Ketujuh, setiap saat baik mahasiswa ataupun bukan selalu dihadapkan pada pengambilan keputusan, mau ataupun tidak, sengaja atau tidak, dicari ataupun tidak. Dan tentu inipun memerlukan kemampuan untuk berpikir kritis.

Tentu saja jika ditelaah lebih jauh maka mungkin saja akan ditemukan alasan-alasan lain tentang pentingnya kemampuan berpikir kritis untuk dikembangkan pada mahasiswa.


B. Pengertian Berpikir Kritis

Arthur L. Costa (1985:310) menggambarkan bahwa berpikir kritis adalah : "using basic thinking processes to analyze arguments and generate insight into particular meanings and interpretation; also known as directed thinking"
R.Matindas (1996:71) menyatakan bahwa: "Berpikir kritis adalah aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran sebuah pernyataan. Umumnya evaluasi berakhir dengan putusan untuk menerima, menyangkal, atau meragukan kebenaran pernyataan yang bersangkutan".

Matindas Juga mengungkapkan bahwa banyak orang yang tidak terlalu membedakan antara berpikir kritis dan berpikir logis padahal ada perbedaan besar antara keduanya yakni bahwa berpikir kritis dilakukan untuk membuat keputusan sedangkan berpikir logis hanya dibutuhkan untuk membuat kesimpulan. Pada dasarnya pemikiran kritis menyangkut pula pemikiran logis yang diteruskan dengan pengambilan keputusan.

Memang banyak cara kita dalam mendefinisikan berpikir kritis, misalnya Dewey mengartikan berpikir kritis sebagai "... essentially problem solving "; Ennis (dalam L.Costa,1985): "the process of reasonably deciding what to believe"; atau juga dapat didefinisikan sebagai :"... a search for meaning, not the acquisition of knowledge" (Arendt,1977)
Ennis (dalam L.Costa,1985) dalam bentuk working definition menggambarkan bahwa : "critical thinking is reasonable, reflective thinking that is focused on deciding what to believe"
Gega (1977:78) Orang yang berpikir kritis adalah ".... who base sugesstion and conclusions on evidence ..." yang ditandai dengan: menggunakan bukti untuk mengukur kebenaran kesimpulan,,menunjukkan pendapat yang kadang kontradiktif dan mau mengubah pendapat jika ternyata ada bukti kuat yang bertentangan dengan pendapatnya.
Senada dengan apa yang dikemukakan Gega, The Statewide History-social science Assesment Advisory commitee (USA) mendefinisikan berpikir kritis sebagai " ... those behaviors associated with deciding what to believe and do" .
Dari pendapat-pendapat di atas dapat dikatakan bahwa berpikir kritis itu melipuri dua langkah besar yakni melakukan proses berpikir nalar (reasoning) yang diikuti dengan pengambilan keputusan/ pemecahan masalah (deciding/problem solving). Dengan demikian dapat pula diartikan bahwa tanpa kemampuan yang memadai dalam hal berpikir nalar (deduktif, induktif dan reflektif), seseorang tidak dapat melakukan proses berpikir kritis secara benar.

C. Langkah-langkah berpikir kritis

The Statewide History-social science Assesment Advisory commitee (Kneedler dalam L. Costa,1985)mengemukakan bah- wa langkah berpikir kritis itu dapat dikelompokkan menjadi tiga langkah: pengenalan masalah masalah (defining/ clarifying problems), menilai informasi (judging informations) dan memecahkan masalah atau menarik kesimpulan (solving problems/drawing conclusion).
Lebih rinci lembaga ini pun mengungkapkan bahwa untuk melakukan langkah-langkah itu diperlukan keterampilan-kete-rampilan yang oleh mereka dinamai Twelve Essential critical thinking skills (12 keterampilan essensial dalam berpikir kritis), sebagai berikut:


A. Mengenali masalah (defining and clarifying problem)

1. Mengidentifikasi isu-isu atau permasalahan pokok.
2. Membandingkan kesamaan dan perbedaan-perbedaan
3. Memilih informasi yang relevan
4. merumuskan/memformulasi masalah.

B. Menilai informasi yang relevan

5. Menyeleksi fakta, opini, hasil nalar /judgment.
6. Mengecek konsistensi
7. Mengidentifikasi asumsi
8. Mengenali kemungkinan faktor stereotip
9. Mengenali kemungkinan bias, emosi, propaganda, salah penafsiran kalimat (semantic slanting)
10. Mengenali kemungkinan perbedaan orientasi nilai dan ideologi.

C.Pemecahan Masalah/ Penari-
kan kesimpulan

11. Mengenali data-data yang diperlukan dan cukup tidaknya data
12. Meramalkan konsekuensi yang mungkin terjadi dari keputusan/pemecahan masalah/kesimpulan yang diambil

Dengan lebih operasional dan sederhana Matindas (1996) menguraikan langkah-langkah berpikir kritis berikut (contoh-contoh bukan sepenuhnya dari Matindas):
1. Pahami dengan seksama pernyataan yang ada. Apa mungkin ditafsirkan lain ?
Contoh:"Pers pancasilais adalah pers yang bebas dan bertanggungjawab" kalimat ini pendek dan sederhana tapi telah terbukti selama Orde Baru, kalimat pendek itu telah membawa korban pembreidelan banyak penerbitan akibat "penafsiran yang kompleks", yakni penafsiran pemerintah beda dengan penafsiran kalangan pers , ya khan ?
2. Cermati maksud di balik pernyataan (sekedar informasi, mempengaruhi sikap, ajakan dll.)
Cermati kalimat berikut: Seseorang yang diidentifikasi sebagai anggota salah satu parpol mengatakan : " Telah terbukti bahwa sangat banyak pejabat yang korupsi, dan mereka adalah anggota golkar" , dapatkah anda menebak apa maksud dibalik pernyataannya ?
3. Cermati alasan yang diajukan untuk mendukung pernyataan. (gunakan logika)
Perhatikan pernyataan ini : "Orde baru menghendaki pelaksanaan Pancasila dan UUD'45 secara murni dan konsekuen, karena itu maka menggugat ORBA sama dengan menggugat Pancasila dan UUD'45",dalam era reformasi kini, nalar apa tidak pernyataan tersebut ? (Pada masa ORBA walupun banyak penyimpangan tentu logis, ya khan ?)
4. Cermati alasan dengan mengklasifikasikan alasan itu ke dalam: fakta, penafsiran, keinginan,atau kesimpulan ahli atau bahkan mungkin ajaran agama.
Coba renungkan ungkapan seorang mantan pejabat: "Untuk menjaga integritas negara dan bangsa Peristiwa tanjung Priok adalah masa lalu yang tidak perlu diungkapkan lagi" Tafsirkan sendiri, ini fakta, keinginan, tafsiran atau ungkapan ketakutan ? bingung ?
5. Ambil keputusan. Setelah menjalani proses-proses di atas silakan ambil keputusan terima atau tolak; setuju atau tidak setuju. Selalu ada pilihan, dan anda merdeka untuk memilih yang anda mau, tentu dengan resiko yang anda perhitungkan. O'K ? selamat berpikir kritis dan nikmati kemerdekaan anda.
Contoh kasus: Dalam kasus meninggalnya aparat saat mengamankan demonstrasi. Ada pihak tertentu yang mengeluarkan pernyataan bahwa penyebab meninggalnya aparat tersebut adalah karena dianiaya oleh mahasiswa. (Lakukan proses berpikir kritis, apakah anda dapat menerima pernyataan tersebut ?)

D. Bagaimana upaya untuk mengembangkan berpikir kritis kita ?

Untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dapat dilakukan hal-hal berikut:
1. Kuasai terlebih dahulu kemampuan-kemampuan berpikir dasar.(induktif, deduktif dan reflektif)
2. Selalu bersikap skeptis tentang segala sesuatu!, benar/tidak ?, cocok/tidak dll.
3. Tanamkan dalam diri kita bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak selain yang datang dari Allah.
4. Latihlah hal-hal berikut:
· Mengenali inti sebuah pernyataan
· Mengulang pernyataan dalam kalimat sendiri
· Mencari contoh untuk mengilustrasikan pernyataan
· Mengenali maksud di balik pernyataan
· Mencari kemungkinan penafsiran lain dari pernyataan
· Membedakan antara inti pernyataan dengan alasannya
· Memeriksa antara pernyataan denggan alasannya
· Merumuskan pertanyaan dengan jelas dan benar
· Membedakan antara fakta dengan opini atau penafsiran.
5. Yakini bahwa selalu ada kemungkinan kekeliruan atau kesalahan dari suatu pernyataan.
6. Yakini bahwa tidak ada larangan untuk berpikir kritis dan berpendapat lain.
7. Yakini bahwa pendapat orang banyak belum tentu benar.
8. Yakini bahwa berpikir kritis adalah juga kunci untuk maju
9. Selalu dahului keputusan yang kita ambil sekecil apapun dengan berpikir nalar (menggunakan logika).
10. Jika kita ingin berpikir kritis, jangan lupa pula bahwa orang lain pun mau. siapkah ???
(Ini bukan "The ten commandement" maka jika anda kritis mungkin akan ditemukan cara/upaya yang lain !!!)

E. Waspadai sumber-sumber kesalahan berpikir berikut ini.

1. Kegagalan melihat penafsiran lain
misal : saya melihat petani menggunakan teropong. Petani yang menggunakan teropong atau saya yang melihat dengan menggunakan teropong.
2. Gagal melihat kemungkinan lain
misal : Penembak pertama adalah polisi, jadi yang bersalah dalam peristiwa Tri Sakti pasti polisi, (padahal bukankah bisa saja terjadi penyebab meninggalnya mahasiswa bukan penembak pertama).
3. Over generalisasi.
Misalnya karena pernah diajar oleh guru matematika yang galak di SLTP dan di SLTAnya lalu kita berkesimpulan bahwa semua guru matematika galak.
4. Kecenderungan menyamaratakan (stereo-typing). Misalnya: karena sudah rahasia umum bahwa orang batak itu keras, maka kadang kita menganggap bahwa setiap orang batak berwatak keras (stereotif terhadap warga batak)..
5. Gagal menyingkirkan pengaruh emosi.
Kita kadang tidak mampu berpikir kritis karena dipengaruhi oleh perasaan.
6. Gagal dalam melakukan penalaran. (gagal dalam menggunakan hukum-hukum logika)
7. Gagal dalam mengenali fakta (kesalahan/kekurangakuratan dalam pengukuran dll.)


Daftar Pustaka

Belth, Marc.(1977) The Process Of Thinking.New York: David Mc Kay Company
Costa, Arthur L.,(ed.) (1985) Developing Minds, A Resource Book for Teaching Thinking. Virginia: ASCD
De Bono, Edward. (1990). Berpikir Lateral, alih Bahasa oleh Budi. Jakarta: Binarupa Aksara.
Dirmawa,Dikti.(1996).Buku Peserta Pelatihan Pembimbing Kelompok Diskusi Mahasiswa (OPPEK- TIPE B). Dikti Jakarta.
Gega, Peter C., (1977) Science in elementary education. New York : John Wiley And Sons Inc.
Nickerson, Raymond S., (1985) The Teaching Of Thinking. New Jersey: Lawrence Erlbaum
Raths, Louis E., et.al. (1986) Teaching for thinking (2'nd ed.). New York: Teacher College Columbia University.
* Makalah disajikan dalam seminar mahasiswa FKIP Uninus 18 Juni 1998
** H.Didin Wahidin,Drs.,MPd. dosen kopertis wil.IV dpk di FKIP Uninus,Kini tengan tempuh S3 IKIP Bandung

2 komentar:

ikhwan mulyawan mengatakan...

sewaktu saya kuliah di FKIP UNINUS Jurusan bahasa Arab, Bapak tengah menjabat sebagai dekan III FKIP, kharisma Bapak sangat kuat, hampir tidak ada batasan yang kaku dalam hal mengayomi dan mendidik kami selaku mahasiswa reguler pada waktu itu, kalau Bapak masih ingat nama saya Ikhwan Mulyawan nama mahasiswa angkatan saya : Cahya Guna utama, Oon Saonah, Asep Hermawan, Didi Mulyadi, Warsim (alm), Dll. Banyak kenangan indah yg tak terlupakan sewaktu kami di bimbing oleh Bapak. saya istilahnya jadi "Kuncen" senat fakultas pada waktu itu dimana Bapak dan kami sering ngobrol santai di senat. Terima kasih Pak, jasa besar Bapak tak pernah kami lupakan, kami slalu berdo'a semoga Bapak dan keluarga selalu dalam keadaan sehat wal afiat. Amin...Selamat berjuang Pak !!

didin uninus mengatakan...

Amiin yra... Moga sukses senantiasa bersama anda... Dimana anda sekarang ?