Senin, 07 Juli 2008

KORUPSI

Akankah kita pun turut membesarkannya di dunia pendidikan ?
Oleh Didin Wahidin (Rektor Uninus)



A. Pendahuluan

Renungan awal satu:
Suatu hari Khalifah Umar bin Khattab RA. bertemu dengan seorang gembala kambing di padang pasir yang luas, lalu sayyidina Umar RA berkata kepada gembala tersebut: “Hai gembala juallah seekor kambingmu kepadaku toh tuanmu tidak melihatnya, tinggal katakana saja bahwa kambingmu di makan serigala ” Si gembala lalu menjawab dengan jawaban yang kemudian demikian popular: “Kalau begitu maka dimanakah Allah ?”

Renungan awal kedua:
Suatu saat ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz RA sedang bekerja di ruang kerjanya masuklah salah seorang putranya, lalu lampu penerangan di ruang itu dimatikannya. Putranya bertanya ”kenapa ayah padamkan lampunya ?” sang Khalifah menjawab”lampu itu milik negara diminyaki dengan minyak negara, kita akan bicara untuk masalah pribadi maka tidak layak kepentingan pribadi harus menggunakan fasilitas negara”.

Tanpa bermaksud untuk menyamaratakan bahwa semua manusia Indonesia saat ini tergolong koruptor, renungan di atas seolah hanya dongeng menjelang tidur yang seolah tidak pernah terjadi di alam nyata. Karena saat ini korupsi telah melanda ummat manusia sampai kepada orang yang tidak pernah diduga akan melakukan itu. Dari mulai pejabat tinggi, anggota legislative, pekerja, pedagang, petani, pengurus ormas, pengurus orpol, pengelola LSM, pengelola panti asuhan, bahkan di bidang pendidikan pun merebak korupsi yang dilakukan oleh hampir semua unsur, yakni guru/dosen, kepala sekolah, tata usaha, komite sekolah, dewan pendidikan, pengawas dll., bahkan kepada kepala dinasnya sekali pun seperti tak mau ketinggalan untuk melakukannya.
Dengan berragam persepsinya, hampir tidak ada manusia di negeri ini yang tidak tahu tentang korupsi bahkan mungkin dalam benak masing-masing orang telah tertanam cita-cita pada suatu saat ingin korupsi. Korupsi telah membudaya, korupsi sudah menjadi penyakit yang mewabah, korupsi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan bangsa ini. Ironis memang di negeri yang katanya religius, di negeri yang terkenal ramah, di negeri yang sumber daya alamnya demikian kaya, di negeri yang berpancasila, di negeri yang katanya sangat besar tenggang rasanya, di negeri yang katanya masih bergulat untuk mengatasi kemiskinan, korupsi merebak demikian subur bahkan sampai tarap sulit untuk dikendalikan.
Saat peralihan rezim dari rezim orde baru ke rezim yang baru katanya rezim reformasi, perubahan menjadi angan-angan semua orang, termasuk berkurangnya korupsi. Reformasi yang didengungkan orang, telah membuat semua orang merasa bahwa inilah saat dimana semua warga negara berhijrah dari masa-masa gelap ke arah masa yang cerah cemerlang di kehidupan yang lebih baik, dari kehidupan yang tertekan ke arah yang lebih merdeka dalam arti yang seluas-luasnya. Era reformasi terbayangkan sebagai masa yang penuh harapan, masa yang tergambarkan akan terraihnya segala cita-cita dengan nuansa perbaikan di segala aspek kehidupan, ternyata yang terjadi adalah kekecewaan yang makin dalam pada segala lapisan masyarakat.
Saat ini teriakan reformasi yang demikian lantang di telinga telah beralih menjadi keluhan panjang tak berkesudahan, “era reformasi” dipelesetkan menjadi ”era repot nasi” menjadi masa yang kian jauh dari harapan. Korupsi yang semestinya hilang malah makin menunjukkan keperkasaannya, tak terkecuali yang bertitel reformis pun seperti tak mau ketinggalan untuk turut berpartisipasi memperbesar korupsi. Korupsi seperti raksasa yang makin membesar atau kanker yang akarnya makin kuat dan efeknya pada negara ini makin kuat pula, sehingga negara yang diperjuangkan dengan tetesan darah para syuhada, pengorbanan nyawa para pahlawan ini makin melemah, makin rapuh, makin miskin, makin terpuruk dan harga dirinya makin rendah dengan predikat juara korupsi. (lihat indeks Persepsi Korupsi 2002 Indonesia berada pada urutan 96 dari 102 negara dengan IPK hanya 1,9 dari angka maksimal 10,0 jauh di bawah Malaysia apalagi Singapura)
Tak tanggung tanggung, dalam dunia pendidikan pun korupsi merebak dengan berbagai ragam bentuknya, mulai dari penggelembungan anggaran, ”commitment fee” proyek, penyunatan bantuan, pembentukan ”tim sukses” UN, kebocoran soal UN, pengkatrolan nilai, penjualan ijazah, penjualan seragam sekolah, sampai penjualan buku ajar. Bahkan aneh bin ajaib di negeri yang religius ini soal ujian (UN) sampai harus dikawal oleh polisi saking hebatnya kemungkinan soal bocor, saking hebatnya penyakit korupsi di negara ini. Padahal dari bidang inilah moral anak bangsa akan ditentukan. Ruarr biasa.
Fenomena korupsi kini menjadi sesuatu yang dilematis untuk dibicarakan, jika dibicarakan sepertinya tiada berujung, tidak dibicarakan dampaknya bisa amat mengganggu bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri tercinta ini. Apalagi di dunia pendidikan yang akan melahirkan generasi bangsa yang akan datang, akankah kita mewariskan budaya korupsi kepada anak cucu kita ? Nikmat memang mendapatkan uang tanpa kerja keras, nikmat memang mereguk kesenangan tanpa harus peluh terkuras, akankah kita pun membiarkannya, atau malah menikmatinya, atau bahkan turut membesarkannya ?


Korupsi, makhluk apakah gerangan ?
Banyak sekali ragam pengertian tentang korupsi yang saat ini ada, marilah kita coba telaah bersama agar kita dapat memperjelas sosok penyakit masyarakat yang menakutkan ini. Dalam arti yang luas, korupsi adalah : the abuse of public power in order to make private profit (penyalahgunaan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan pribadi).
Saat ini korupsi melanda hampir semua aspek kehidupan manusia di negara ini, seperti teridentifikasi oleh pernyataan Adam Tertak ( 2003) berikut ini : „… a teacher for some gift lets an unworthy student pass an examination; if a traffic policeman, given a couple of thousand forint bills does not report the driver’s transgression; if a doctor for some backhander prescribes a medicine unnecessary from a professional point of view; if an official can be bribed to “take our file first”.
Dari ungkapan di atas dapat dikemukakan bahwa korupsi tampaknya benar-benar dapat terjadi pada hampir semua aspek kehidupan , korupsi sudah meluas, korupsi melanda mulai lembaga eksekutif, lembaga legislatif, lembaga yudikatif, lembaga swadaya masyarakat, para professional atau bahkan lembaga sosial keagamaan.

Dari semua yang telah dikemukakan di atas maka untuk ukuran urusan negara, secara garis besar korupsi sebenarnya dapat dirujuk pada dua hal : Pertama adalah adanya penyalahgunaan kekuasaan / kewenangan oleh pejabat atau aparatur negara. Kedua, pengutamaan kepentingan pribadi atau klien di atas kepentingan publik oleh pejabat atau aparatur negara yang bersangkutan (Baswir,2003:168).

Noeh (1997:44) mengidentifikasi bentuk-bentuk korupsi dan mengklasifikasikannya sebagai berikut:
1. Korupsi transaksional, yakni korupsi yang dilakukan oleh dua pihak, sama-sama mendapat untung dan karenanya maka keduanya sama-sama mengupayakan terjadinya korupsi. Misalnya suatu sekolah mendapat bantuan dari pemerintah kemudian diperiksa oleh BPK, kemudian ada kesepakatan antara sekolah yang diperiksa dengan pemeriksanya untuk melakukan korupsi “tahu sama tahu”.
2. Pemerasan, seseorang atau ada pihak yang urusannya dipersulit sehingga terpaksa seseorang itu melakukan penyuapan agar usahanya tidak terhambat. Sampai-sampai ada pemeo “jika bisa dipersulit kenapa mesti dibuat mudah”. Misalnya perpanjangan ijin sekolah ke lembaga terkait dibuat berbelit-belit agar sekolah mengeluarkan dana pelicin.
3. Keuntungan pribadi diusung oleh dirinya/kelompoknya (korupsi Ontogenik). Misalnya seorang pengurus komite sekolah bersikeras menggolkan RAPB sekolah yang menguntungkan dirinya karena akan mendapat komisi, padahal orang tua murid lain dirugikan.
4. Korupsi defensif, yakni ketika seseorang menawarkan diri untuk menyuap untuk membela diri dan kepentingannya. Mialnya ketika seorang orang tua yang menawarkan sejumlah dana kepada kepala sekolah agar anaknya bisa diterima di sekolah yang dipimpinnya padahal passing gradenya lebih tinggi dari nilai yang dimiliki anaknya.
5. Korupsi investasi, yakni bahwa seseorang melakukan tugas dengan sebaik-baiknya bahkan berlebihan untuk mendapatkan “uang jasa” atau bentuk penghargaan lainnya. Misalnya guru yang membantu muridnya mengerjakan soal UAN.
6. Nepotisme, termasuk korupsi jenis ini adalah jika “orang-orang saya” atau “keluarga saya” lebih diutamakan dan mendapat perlakuan khusus. Misalnya di sekolah anak guru, keponakan kepala sekolah atau keluarga pengurus yayasan mendapat perlakuan istimewa dalam hal kesempatan mendapat beasiswa dll.
7. Korupsi suportif, korupsi yang tidak secara langsung melibatkan uang, jasa atau pemberian apapun, melainkan bahwa orang bersikap masa bodoh, membiarkan korupsi berlangsung, dan membiarkan situasi untuk terjadinya korupsi.


Mengapa korupsi bukannya makin hilang malah makin meluas ? mengapa orang melakukan perbuatan korupsi ?

Agar kita tahu persis akar permasalahan korupsi, dapat dikemukakan beberapa hal yang menjadi alasan mengapa pada akhirnya korupsi subur berkembang di negara tercinta ini. Alasan-alasan itu antara lain adalah :
Komitmen warga terhadap sistem moral makin longgar kalau tidak bisa dikatakan hilang. Ini hampir diderita oleh semua kalangan dengan berbagai kadarnya. Nilai-nilai agama seolah hanya berlaku di tempat ibadah, jauh dari amalannya dalam kehidupan sehari-hari, terangkat dari dunia nyata. Dalam Islam, istilah “Islam Kaffah” hanya diangkat menjadi sesuatu slogan.
2. Efek dari aspek kehidupan yang materislistis, masyarakat menjadikan materi sebagai ukuran dalam menimbang berbagai hal. Sehingga untuk mengejar materi apapun akan dilakukan orang, bila perlu ya korupsi.
3. Keadaan ekonomi yang sulit (kemiskinan), tidak sedikit orang yang bekerja dengan gaji yang tidak cukup bahkan hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Keadaan ini menyebabkan orang secara kreatif dan spekulatif mengambil langkah yang terkadang melanggar hukum. Kita juga menyadari hal itu, karena kita terbiasa dengan ungkapan (dalam Islam) “ Kefakiran mendekatkan pada kekufuran”, dalam pengertian ketika desakan kebutuhan demikian tinggi dengan ketidakberdayaan untuk memenuhinya maka orang dapat berbuat apa saja.
Kepastian hukum lemah disertai aparat hukum yang lemah, ini terlihat dari banyaknya kasus hukum dengan putusan yang jauh dari rasa keadilan. Di masyarakat ada semacam sindiran yang kita semua tahu “ maling ayam dapat penjara tapi korupsi milyaran malah dapat kehormatan”. Selain kepastian hukum yang diragukan, aparat pelaksana hukum pun tak kalah memprihatinkannya, rasanya kita semua kenal dengan istilah “pagar makan tanaman”, orang yang semestinya mengawal kepastian hukum justru mempermainkan hukum, memperdagangkan hukum dan menginjak-injak hukum untuk kepentingan pribadinya. Jangan aneh kalau kata HAKIM diplesetkan orang “Hubungi Aku Kalau Ingin Menang”.
Penjajahan yang lama menyebabkan merebaknya korupsi, karena antara lain gaji pegawai pribumi saat itu sangat rendah rendah. Akibat gaji rendah maka para pegawai ini diberi peluang untuk secara kreatif (dalam konotasi negatif) mencari cara untuk mencari penghasilan tambahan. Hal ini menjadi kebiasaan kemudian membudaya, sampai sekarang.
Aspek kebudayaan, misalnya budaya ewuh pakewuh, ini dapat menyebabkan merebaknya korupsi karena orang jadi sungkan untuk mengingatkan orang lain dan karena tidak ada yang mengingatkan maka orang yang korupsi menjadi merasa aman, sehingga jadi kebiasaan lalu tidak bisa diberhentikan. Bahkan karena melihat orang lain aman korupsi seseorang yang tidak bermaksud korupsi pun jadi ikut-ikutan korupsi.
Pengkaburan kepemilikan antara milik pribadi dengan milik negara, salah satu penyebabnya adalah warisan budaya zaman kerajaan yakni bahwa pada zaman itu tidak jelas perbedaan antara milik pribadi raja dengan milik kerajaan. Sehingga kemudian mengaburkan pula siapa sebenarnya yang dapat mengambil manfaat dari objek kepemilikan itu.
Struktur kekuasaan, dulu saat kekuasaan bersifat sentralistik korupsi merebak karena orang daerah mengandalkan orang-orang pusat untuk mendapatkan jatah anggaran yang besar bagi daerahnya, kini setelah desentralistik bukannya malah membaik, malah makin tambah parah, korupsi jadi berlipat-lipat karena orang yang korupsinya bukan makin sedikit malah makin banyak. Bukan hanya itu, korupsinya malah makin luas karena anggota legislatif maupun yudikatif dengan kekuasaannya yang makin besar juga malah ingin turut bersama-sama eksekutif menggerogoti uang rakyat.
Pola hidup konsumerisme. Pada masa sekarang dengan iklan televisi yang gencar, dengan dibangunnya pusat-pusat perbelanjaan yang banyak, dengan kebiasaan atau gaya hidup yang metropolis orang menjadi konsumtif, ini gaya hidup yang mahal dan untuk itu taruhannya adalah apapun bisa dilakukan asal kebutuhan konsumtifnya terpenuhi.
Meniru kehidupan elitnya, saat ini tak ada yang bisa disembunyikan dari masyarakat, kehidupan pejabat eksekutif, legislative atau yudikatif dan tokoh-tokoh masyarakat yang bergelimang kemewahan dengan tanpa memperhatikan rakyat kecil , bahkan kalaupun salah tidak tersentuh hukum menyebabkan masyarakat pun kehilangan contoh / teladan yang biasanya dijadikan panutan dalam menjalani kehidupan.


Adakah upaya yang bisa dilakukan untuk menanggulangi korupsi yang melanda negara ini ?

Membayangkan bahwa korupsi sudah demikian menggurita di negara kita ini, rasanya seperti tidak ada jalan yang dapat kita lakukan untuk memberantasnya, membiarkannya terus berlangsung juga pada akhirnya bisa menenggelamkan negara yang kita cintai ini. Sepatutnya kita renungkan firman Allah : “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu merubahnya dengan usahanya sendiri” rasanya kalau kita tidak berbuat apa-apa kok seperti tidak mengindahkan ayat ini. Juga kita rasanya terikat dengan hadits nabi yang menyatakan bahwa: Barang siapa melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tanganmu, atau dengan lisan atau bahkan dengan hati tapi ini adalah iman yang paling lemah” . Karena itu maka sekecil apapun peran yang bisa kita lakukan maka tentu akan lebih baik jika kita memilih untuk melakukannya.

Seperti yang kita maklumi bersama bahwa kejahatan termasuk korupsi akan terjadi jika terdapat dua hal, yakni niat (keinginan untuk berbuat jahat) dan peluang atau kesempatan untuk melakukan kejahatan itu. Dengan kata lain maka usaha yang kita lakukan itu pada dasarnya untuk mencegah agar kedua hal itu ada pada saat bersamaan atau bahkan jika seandainya bisa keduanya ditiadakan.

Atas dasar pemikiran seperti di atas akan dikemukakan beberapa alternatif cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi korupsi khususnya di bidang pendidikan, antara lain adalah melalui cara sebagai berikut :
Menanamkan kesadaran tentang korupsi dengan segala akibatnya kepada seluruh pihak yang terkait dengan dunia pendidikan. Kesadaran dimulai dengan pengetahuan, lalu meningkat manjadi upaya pembiasaan dan pada akhirnya melalui pembudayaan. Jadi langkah awal yang dikemukakan adalah berusaha memberikan pengetahuan dan informasi yang memadai mengenai apa dan bagaimana serta apa bahayanya korupsi.
Para pejabat di dunia pendidikan seharusnya adalah orang yang track recordnya bersih dari KKN, agar dia dapat dijadikan sebagai profil teladan/panutan bagi para bawahan yang dipimpinnya juga tidak melakukan korupsi.
Kemauan politik dari penguasa, pencegahan dan penanggulangan korupsi yang dianggap akan secara efektif memberi dampak yang baik adalah kemauan politik dari penguasa saat ini. Selama ini kita melihat kenyataan yang memperihatinkan bahwa penguasa justru membiarkan kejahatan berlangsung agar dia juga tidak terganggu untuk berbuat kejahatan serupa atau bahkan lebih jahat lagi.
Negara hendaknya membuat perangkat perundang-undangan yang memberikan sanksi yang berat terhadap pelaku korupsi, dan dijaga pelaksanaanya dengan konsisten dan konsekuen.
Setiap pejabat di dunia pendidikan semestinya diperiksa kekayaannya sebelum dan sesudah memangku jabatan publik yang diembannya. Kekayaannya pun harus diumumkan kepada publik.
Salah satu penyebab terjadinya korupsi adalah karena tidak transparannya pengelolaan kebijakan pemerintah, terutama dalam hal pengelolaan keuangan. Karena itu semestinya dibuat aturan yang lebih tegas tentang transparansi.
Karena berita tentang korupsi demikian banyak, tampa hukuman berat bagi para pelakunya, maka masyarakat jadi apatis, hal ini menyebabkan para pelaku korupsi menjadi bebas berkeliaran bahkan karena koruptor itu biasanya kaya maka justru masyarakat menghormatinya. Karena itu maka masyarakat sudah semestinya secara sadar menjadi pengawas para pejabat publik dan dapat melaporkan pelakunya kepada pihak yang berwajib. Mesti ditingkatkan kepedulian masyarakat terhadap pemberantasan korupsi.
Bentuk lembaga-lembaga independen yang kredibel untuk penggalangan kekuatan masyarakat dalam penanganan korupsi bidang pendidikan.
Aparat penegak hukum harus bersih, karenanya maka mereka harus dicukupi kesejahteraanya. Karena kalau sudah berhubungan dengan uang maka keputusan hukum yang dibuatnya menjadi tak bernyali, sikapnya menjadi lembek dan keadilan pun menjadi hilang .
Sangsi moral dari masyarakat dikembangkan untuk yang berbuat salah/korupsi, amatlah perlu didukung fatwa ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang melarang untuk menyolatkan janazah koruptor. Mungkin perlu dicari bentuk-bentuk lain yang lebih membuat orang jera untuk berbuat korupsi.
Gaji guru dan aparat pendidikan lainnya mesti dinaikkan, hingga segala kebutuhannya dapat dipenuhi dari gajinya itu. Dan hukum mereka seberat-beratnya jika mereka masih melakukan perbuatan korupsi.
Menanamkan budaya malu untuk berkorupsi, apalagi di dunia pendidikan.
Mari kita hentikan korupsi mulai dari diri sendiri, pada saat ini, jangan ditunda lagi. Jangan wariskan korupsi kepada anak cucu kita.


Penutup

Dalam negara yang paling bersih sekalipun, korupsi tetap memiliki peluang untuk terjadi, karena itu apabila kita ingin memberantas korupsi maka selain harus dilakukan dengan kesungguhan yang sangat dalam juga prosesnya harus dilakukan dengan berkelanjutan.

Rasanya kita tidak akan lupa pada prasyarat keberhasilan perjuangan yang secara filosofis mewarnai ummat Islam, khususnya yang berfaham Ahlussunnah wal jamaah, yakni:
Pertama, pancangkan niat yang kukuh untuk bersama-sama memberantas korupsi secara tuntas di negeri ini. (segala amal tergantung pada niatnya dan orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya. Al hadits),
Kedua, istiqomah, dalam arti bahwa kita harus tekun, konsisten dengan niat kita konsisten dengan usaha kita, tidak kenal lelah untuk terus menerus secara berkelanjutan memberantas korupsi. Insya Allah sedikit demi sedikit akan memberikan hasil.
Ketiga, Sabar, dalam arti bahwa untuk memberantas korupsi itu tidak mudah, rintangannya amat banyak, godaannya amat banyak, untuk ini kita harus bersabar menghadapinya.
Keempat: Tawakkal kepada Allah, di atas segala usaha yang kita lakukan hendaknya juga kita tidak lupa untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah, bukankah kita selalu menyatakan bahwa kita hanya berusaha, Allahlah yang menentukan hasilnya. Mudah-mudahan Allah member peunjuk kepada kita untuk tidak korupsi. Jadi tak ada alas an untuk berdiam diri, perjuangan dan do’a.

Nikmat memang mendapatkan uang tanpa kerja keras, nikmat memang mereguk kesenangan tanpa harus peluh terkuras, akankah kita pun membiarkan korupsi berlangsung, atau malah menikmatinya, atau bahkan turut membesarkannya ?

Mudah-mudahan Allah menyertai kita, memberi petunjuk dan kekuatan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar ini . Amin


Daftar Pustaka

Baswir, Revrisond. (2003) Di bawah ancaman IMF. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Pabottinggi, Mochtar. (2003) Strategi memberantas Korupsi elemen system integritas Nasional, timbangan atas buku TI-Sourcebook 2000. Jakarta: TII
Noeh, Munawar Fuad.(1997). Islam dan gerakan moral anti korupsi. Jakarta: Zikrul Hakim.
Pope, Jeremy.(2003).Strategi Memberantas Korupsi.(edisi Ringkas) diringkas oleh Tjahyono EP. Jakarta:Transparency International Indonesia.
Transparency Internastional Indonesia.(2002). Indeks Persepsi Korupsi Transparency International 2002. Jakarta.

2 komentar:

rohendi mengatakan...

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Silaturahim dari muridmu (rohendi-alumni fkip uninus '93). Mudah-mudahan banyak generasi muda yang membaca artikel bapak ini. Dengan harapan kedepannya Indonesia akan terbebas dari budaya korupsi yang sudah sangat merajalela disetiap lini kehidupan. amiin.

rohendi mengatakan...

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Selamat atas kesuksesan karir Bapak. Mudah-mudahan dengan kepemimpinan Bapak, Uninus tercinta senantiasa menghasilkan alumnus-alumnus yang berkualitas baik segi keilmuannya maupun akhlakul karimahnya. (Salam dari muridmu : Rohendi sekeluarga).
Semoga Bapak sekeluarga senantiasa sehat. Amiin.