Sabtu, 07 Maret 2009

BERPIKIR KREATIF

Oleh: Didin Wahidin
(Dosen FKIP Uninus)



Pendahuluan

Kreativitas bukanlah kata-kata mutiara yang eksklusif untuk sesuatu yang asing bagi manusia, kreativitas justru merupakan suatu sisi dari manusia yang menandai “manusianya” seorang manusia. Karena dengan kreativitas inilah maka manusia dapat berada pada kemajuan di berbagai bidang kehidupan seperti sekarang ini.
Hasil penelitian Hans Jellen dan Klaus Urban (Dedi Supriadi,1992:8) yang dilakukan pada tahun 1987 terhadap anak-anak Indonesia yasng berusia 10 tahuan ternyata dibandingkan dengan 8 negara lain, anak Indonesa menampilkan ekspresi kreatif yang paling rendah. (negara-negara sampel adalah : Filipina, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, India, RRC, Kamerun, Zulu, Indonesia)
Sudah barang tentu bahwa hasil penelitian ini tidak lantas membuat kita harus berkesimpulan bahwa Bangsa Indonesia memiliki kreativitas rendah, karena seperti yang terungkap dari pendapat Frans Boas(Dedi Supriadi,1992:4)” jika kita mencari orang paling cemerlang, maka orang seperti itu akan ditemukan pada setiap bangsa dan ras di dunia”. Artinya bukan Bangsa Indonesianya yang tidak kreatif melainkan seperti hasil penelitian Utami Munandar(1977), iklim llingkungan di Indonesia baik lingkungan keluarga maupun sekolah kurang menunjang tumbuh dan berkembangnya kemampuan kreatif itu. Arieti (Dedi Supriadi,1992:27) juga menyatakan bahwa: “ creativity does not occur at random, but enhanced by environment factors”.
Seperti yang sering diungkapkan para pakar, setiap orang adalah kreatif walaupun tentu dengan tingkat yang berbeda atau dengan cara pengekspresian yang berbeda. Kalau kemudian kita terbentur pada persoalan bahwa ternyata ekspresi kreatif para siswa kita rata-rata rendah pertanyaan yang muncul adalah mengapa demikian ?.
Sebelum kita mencoba untuk menjawab pertanyaan itu, kita coba telusuri mengapa rendahnya kreativitas kita persoalkan ? Alasannya antara lain adalah sebegai berikut :
Pertama, era globalisasi yang ditandai dengan cepatnya perubahan di berbagai bidang kehidupan memerlukan manusia-manusia yang dengan cepat mampu beradaptasi atau mereorientasi hidupnya sejalan dengan perubahan yang terjadi, ini memerlukan kreativitas.
Kedua, pembangunan yang sedang dilaksanakan di tanah air kita dalam berbagai bidang memerlukan manusia-manusia yang tangguh dan kreatif, karena selain kita harus menghadapi berbagai kamajuan yang telah dicapai oleh bangsa lain kitapun tentu berkeinginan untuk menjadi pionir dalam berbagai kemajuan yang mungkin diraih manusia di kemudian hari. Kreativitas merupakan modal mutlak yang harus dimiliki.
Ketiga, program “Pengentasan kemiskinan” yang kini keras berdengung, tentu bukan dipecahkan dengan hanya sekedar memberi pekerjaan atau tunjangan sosial melainkan bagaimana “Sumber daya manusia” yang ada berusaha dibina untuk secara mandiri memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya. Kembali di sini kreativitas menjadi faktor kunci agar masyarakat tidak hanya menyerah kepada keadaan tapi berusaha memodifikasi keadaan yang tidak menguntungkan menjadi modal dasar yang menguntungkan. Contoh kasus misalnya, mak Eroh “Si pahlawan lingkungan hidup” dari Jawa Barat, beliau telah berjasa mengubah keadaan yang tidak menguntungkan menjadi hal yang menguntungkan. Kreatif dan tidak menyerah kepada keadaan. Islam menyatakan “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum (masyarakat) tanpa upaya masyarakat itu sendiri untuk merubahnya” (Al-Quran). Kita tentu tidak ingin memiliki si miskin yang hanya merenungi nasibnya tapi kita membutuhkan si miskin yang terus berupaya merubah nasibnya, toh kata pepatah pun “The difference between the possible and the impossible is only the will of man”.
Keempat, dalam kaitan dengan perkembangan sains dan teknologi yang demikian cepat, tanpa kreativitas yang memadai maka sains dan teknologi yang berkembang itu hanya akan menjadi tontonan mengasyikkan yang akan terus berlalu satu demi satu tanpa bisa turut mewarnai pesatnya perkembangan IPTEK itu atau bahkan untuk mengambil manfaatnya sekalipun. Penick menegaskan : “Only creative individuals will be able to optimally use science and the ideas of science in resolving societal problems”. Dan karena “Creativity is the essence of science” maka kreativitas merupakan modal dasar utama jika memiliki keinginan untuk turut berkiprah dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Utami Munandar (1987) mengemukakan pula alasan mengapa kreativitas pada diri siswa perlu dikembangkan: Pertama, dengan berkreasi maka orang dapat mewujudkan dirinya (self actualization), dan ini merupakan kebutuhan setiap manusia untuk mewujudkannya. Kedua, Sekalipun setiap orang memandang bahwa kreativitas itu perlu dikembangkan, namun perhatian terhadap pengembangan kreativitas itu belum memadai khususnya dalam pendidikan formal. Ketiga, bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat tapi juga memberikan kepuasan tersendiri. Keempat, kreativitas lah yang memungkinkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Untuk hal ini kita menyadari bagaimana para pendahulu kita yang kreatif telah banyak menolong manusia dalam memecahkan berbagai permasalahan yang menghimpit manusia.
GBHN (Tap.II/MPR/1993) menggarisbawahi pentingnya pengembangan kreativitas, sehingga merekomendasikan kepada dunia pendidikan agar mengembangkan pengajaran yang memberikan atau menyediakan iklim untuk berkembangnya kreativitas itu. Ini menggambarkan betapa bangsa Indonesia pun telah sepakat betapa perlunya kemampuan kreatif itu dikembangkan.
Walaupun mungkin dengan alasan yang berbeda-beda, tampaknya semua orang akan sepakat bahwa kreativitas itu perlu dikembangkan, bukan saja dalam konteks kependidikan, tapi juga dalam bidang kehidupan lainnya.


Pengertian Kreativitas.

Kendatipun kita sepakat bahwa kreativitas itu memang perlu dikembangkan, namun kadang-kadang kita memandang istilah kreativitas itu sebagai sesuatu yang berbeda satu sama lain, yang dapat menyebabkan kaburnya makna essensial dari istilah ini.
Pandangan atau pemahaman tentang kreativitas yang berbeda itu menurut Dedi Supriadi (1992:1) disebabkan karena dua hal. Pertama, sebagai suatu “konstruk hipotesis” kreativitas merupakan ranah psikologis yang kompleks dan multi dimensional, yang mengundang banyak penafsiran. kedua, definisi-definisi kreatifitas memberikan penekanan pada sisi yang berbeda-beda, tergantung dasar teoritis yang menjadi acuan pembuat definisi.
Perbedaan pemahaman dalam mengartikan istilah kreatifitas tidak berarti bahwa kita lantas mengambil salah satu istilah dengan menafikan yang lain, tetapi hendaknya semua dipandang sebagai sesuatu yang saling melengkapi sehingga kita boleh berharap dengan melihat berbagai pandangan itu akan tampak kepada kita “kreativitas” sebagai sesuatu yang utuh menyeluruh.
Beberapa definisi kreativitas, antara lain:

1. Torrance (dalam Penick,1988:7) mengemukakan: ” Creativity is a process of becoming sensitive to problems, deficiencies, knoeledge, missing elements, disharmonies, etc.; identifying the difficulties; searching for solution, making guesses, or formulating hypotheses and possibly modifying them and retesting them; finally communicating the results.”
2. Baron (dalam Rotherberg,1987:190) berpendapat bahwa kreatifitas adalah:” The ability to bring something new into existence”
3. Mac Kinnon (dalam Yelon,1977:2332) menyatakan bahwa kreativitas adalah: ... seems to be unique combination of ingredients, a combination which leads to novel approaches to situations, to problrm solving through sustained insight”.
4. Mednick (dalam Picard,1979:15) mengemukakan kreativitas sebagai salah satu ragam berpikir:” creative thinking consist in forming need combination of associative elements, especially mutually remote elements”.
5. Guilford (dalam Dedi Supriadi,1992) bahkan menambahkan bahwa :” ... creativity refers to the abilities that are characteristics of creative people”.
Jika kita telaah, akan tampak bahwa orang memang bisa memandang kreativitas dari segi yang berbeda, bisadari segi proses, produk atau mungkin pula dari segi orangnya. bahkan Rhodes (dalam Rampengan,1986:24) menyatakan bahwa kreativitas dapat dipandang dari empat sisi komponen kreativitas, yaitu ” person, process, products and press” atau yangterkenal dengan sebutan “ the four P’s of creativity.”
Telaahan lain terhadap berbagai definisi dari kreativitas akan memunculkan apa yang kemudian dikenal sebagai “ Mac Kinnon Tri Partite definition of creativity” sebagai karekteristik dari kreativitas, yaitu: 1. Melibatkan penciptaan sesuatu yang baru atau jarang; 2. Mampu mengidentifikasi arah atau petunjuk ke arah tujuan yang diinginkan, contoh : merancang gedung hingga benar-benar memiliki ruang yang efisien untuk bekerja; 3. selalu berusaha untuk mencapai kesempurnaan atau ketuntasan (Wilson,1974:1930).
Kata “baru” dal;am kaitan dengan kreativitas tidak perlu diartikan sesuaru yang benar-benar baru (sebelumnya belum pernah ada), tetapi dapat saja hasil ciptaannya itu merupakan kombinasi dari apa-apa yang telah ada sebelumnya. Atau mungkin pula sesuatu yang baru itu hanya baru bagi orang tersebut, jadi mungkin saja bagi orang lain bukan hal yang baru (Anderson,1970:90).
Contoh kreativitas dalam arti kombinasi dari apa-apa yang telah ada adalah penciptaan sepatu roda. Sepatu adalah bukan hal yang aneh, roda pun telah dikenal sejak zaman dahulu, tetapi sepatu roda adalah buah kreativitas yang brilian. sedangkan contoh yang baru hanya bagi dirinya , banyak ditemukan dalam kaitan dengan proses belajar mengajar di sekolah. Mungkin bagi guru suatu pemecahan soal tentang nateri pelajaran dalam PBM yang dikelolanya adalah bukan sesuatu yang baru, tetapi bagi muridnya adalah sesuatu yang baru. Ini pun termasuk salah satu bentuk kreativitas.
Selain dari apa yang dikemukakan di atas, definisi kreativitas juga dapat dibedakan menjadi definisi konsensual dan definisi konseptual. Definisi konsensual adalah bahwa sesuatu itu bernilai kreatif jika oleh pengamat yang ahli dalam bidangnya sesuatu itu memang bernilai kreatif. Sedabngkan definisi konseptual diartikan bahwa sesuatu itu bernilai kreatif jika secara konseptual sesuatu itu memenuhi kriteria-kriteria tertentu. Misalnya : a) Produk itu baru, unik , berguna, benar atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu dan b) Produk itu bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya (Amabile, dalam Dedi Supriadi,1992:2).
Anderson (1970) memendang kreativitas sebagai suatu proses berpikir. Adapun jenis berpikir yang dapat mencerminkan kreativitas adalah tergolong jenis berpikir divergen (divergent thinking) seperti terungkap dari apa yang dikemukakan Yelon (1977:232) “ An important ingredient in creativity is divergent thinking”.
Selanjutnya Yelon (1977:232) dengan diilhami oleh pendapat Guilford menerangkan bahwa “ divergent thinking is characterized by producing wide variety of alternative solutions, each of which is logically possible”. Utami Munandar (1987:48) merumuskan dalam bahasa yang akrab dengan kita, bahwa “Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, di mana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan dan keragaman jawaban”.
Jenis berpikir yang oleh Guilford dinamai berpikir divergen (divergent thinking) ini tampaknya setali tiga uang dengan jenis berpikir yang oleh De Bono diberi nama “Lateral thinking” (Berpikir Lateral).
berpikir lateral atau berpikir menyamping, diberi nama demikian oleh De Bono untuk mengisyaratkan keragaman kemungkinan jawaban terhadap permasalahan, sebagai kontradiksi dengan penalaran ilmiah yang oleh De Bono disebut sebagai berpikir vertikal.
Adapun ciri-ciri berpikir lateral yang membedakannya dengan berpikir ilmiah, antara lain:
• Berpikir vertikal lebih menekankan pada kebenaran (right), sedangkan lateral menekankan pada kekayaan ragam.
• Dalam berpikir vertikal orang bergerak ke arah yang didefinisikan untuk sampai pada pemecahan masalah, sedangkan lateral bergerak untuk menghasilkan arah.
• Berpikir vertikal bersifat analisis sedangkan lateral bersifat provokatif.
• Dalam berpikir vertikal orang melangkah selangkah demi selangkah secara berurutan, sedangkan lateral dapat membuat lompatan dalam berpikir.
• Dalam berpikir vertikal orang harus benar pada setiap langkah sedangkan dalam lateral tidak perlu.
• Dalam berpikir vertikal orang mengikuti jalan yang paling mungkin sedangkan dalam lateral orang menjajagi jalan yang paling tidak mungkin.
• Dengan berpikir vertikal orang berkonsentrasi dan mengesampingkan apa yang tidak relevan sedang kan dalam lateral orang menyambut baik terobosan yang kebetulan.
• Dengan berpikir vertikal kategori, klasifikasi dan label bersifattetap, sedangkan dalam lateral tidak.
• berpikir vertikal nmerupakan proses terbatas sedangkan lateral merupakan proses yang serba mungkin.
• Berpikir vertikal dan berpikir lateral memang secara fundamental berbeda, hal itu tidak berarti bahwa kita harus memilih salah satu kemudian mengesampingkan yang lain, namun hendaknya dipandang bahwa satu sama lain saling melengkapi. keduanya perlu dilatihkan , agar selain memiliki kemampuan penalaran ilmiah yang baik, kitapun kreatif.

Sebagai kemampuan berpikir , Guilford mengemukakan bahwa kreatifitas ditandai dengan adanya: Kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), dan elaborasi (elaboration) (Rotherberg,1978:200).
Kelancaran dimaksudkan sebagai kemampuan untuk mengemukakan banyak gagasan pemecahan terhadap suatu masalah; Keluwesan didefinisikan sebagai kemampuan untuk membuat transformasi informasi, menafsirkan ulang (reinterprate), membuat definisi lain (redifine); kealsian diartikan sebagai kemampuan untuk membuat gagasan yang alain dari yang lain (unique); sedangklan elaborasi adalah kemampuan untuk memerinci, mengambangkan gagasan dan membuat implikasi dari informasi-infornasi yang tersedia.


Tahap-tahap proses Kreatif.

Bertrand Russel (Gilhooly, 1982) menyatakan bahwa proses berpikir, termasuk berpikir kreatif, lebih bersifat bersifat instinktif, sama halnya dengan proses pencernaan. Dia menggambarkan bagaimana dia berhadapan dengan persoalannya kemudian mencari informasi yang relevan kemudian dia tinggalkan untuk mengurus persoalan lain, lalu sejalan dengan bergulirnya waktu dan keberuntungan dia menemukan jawaban persoalnnya. Russel seolah memandang proses kreatif berjalan tanpa langkah yang jelas, seolah datang secara tiba-tiba, secara otomatis.
Tidak sedikir para pemikir yang kurang lebih berpandangan sama dengan pandangan Russel di atas. Namun tentu saja orang tak akan pernah berhenti untuk mencari dan mencari keteraturan atau pola-pola yang mungkin dilalui seseorang dalam proses berpikir kreatif. Ini, dengan harapan bahwa di kemudian hari keterampilan berpikir kreatif dapat dikembangkan secara rasional tanpa menunggu datangnya anugerah untuk munculnya manusia-manusia kreatif.
Graham Wallas setelah melihat pengalaman Henry Poincare dalam menemukan persamaan Fuchsian atau Kekule dalam proses menemukan struktur molekul benzena atau para pemikir lain, juga atasar pengalaman dirinya sendiri melihat adanya pola teratur yang terjadi pada seseorang manakala dia melakukan pemikiran-pemikiran kreatif. wallas mengungkapkan gagasan dalam buku “ The art of Though” bahwa proses pemecahan masalah (berpikir) kreatif melalui empat langkah pokok, yakni: tahap 0persiapan (preparation), tahap inkubasi (incubation), tahap illuminasi (illumination, dan tahap verifikasi (verification). (Gilhooly,1982:129; Rotherberg & Hausman,1978:69-73).
Pada tahap persiapan berjalan proses pengenalan permasalahan, berusaha mengumpulkan informasi-informasi yang relevan, berusaha menampilkan alternatif-alternatif pemecahan masalah. Dalam istilah Wallas: “The problem was investigated ... in all direction” (Rotherberg & Hausman,1978:70). Torrance (Penick, 1988:9) mengungkapkan bahwa tahap persiapan ini “... involves sensing a defisiency or need, some random exploration, and a clarifying of the problem.”
Tahap kedua yaitu inkubasi, terjadi pada saat orang yang sedang berpikir itu berusaha memecahkan masalah dengan keras kemudian menekan persoalan ke alam bawah sadarnya. Tahap ini berlangsung seolah orang ingin melepaskan diri dari persoalan yang digelutinya dan pada tahap ini seperti yang digambarkan oleh Poincare dan ahlilainnya, alam bawah sadar lah yang bekerja. Gilhooly (1982:130) menegaskan “ No conscious work is done on the problem during this stage”. Selanjutnya Wallas mengemukakan bahwa langkah ini bisa efektif atau tidak akan tergantung pada aktivitas penyelang yang dilakukan, misalnya kerja ringan , yang dipadu dengan pengistirahatan proses mental (berpikir) akan turut menunjang pemecahan masalah. sedangfkan kebiasaan untuk mengisi waktu senggang dengan membaca pada saat tengah berhadapan dengan masalah termasuk proses yang mengganggu. (Gilhooly,1982:130).
Tahap illuminasi ditandai dengan munculnya apa yang oleh Helmholtz diistilahklan sebagai “Happy though” atau istilah lain “Happy idea” . Tahap inipun seringkali disebut tahap munculnya “Insight” atau mungkin kita mengenalnya dengan istilah munculnya inspirasi. Pada tahap ini gagasan-gagasan muncul yang terkadang bukan berupa pemecahan yang sempurna dari persoalan yang dihadapi, tetapi mungkin hanya berupa gagasan-gagasan kunci yang memberi arah kepada pemecahan permasalahan.
Tahap iluminasi ini merupakan buah dari kerja yang dilakukan pada tahap persiapan, karena secara logis jawaban yang muncul pada tahap inspirasi adalah jawaban terhadap pernmasalahan yang dicoba diakrabi pada tahap persiapan. Inspirasi mucul tanpa pendahuluan tapi merupakan buah dari kerja keras yang kadang memakan waktu tidak sedikit. Eddison mengemukakan : “ No inspiration without perspiration” (Gilhooly,1982:129). Dengan kata lain inspirasi tentang suatu hal tidak akan muncul kepada orang yang memang tidak berpikir tentang hal tersebut atau minimal berpikir tenteng hal-hal yang berhubungan, sekalipun memang inspirasi dapat muncul pada saat-saat kita tengah mengerjakan pekerjaan lain. Atau kita tengah lupa dengan persoalan yang kita geluti. Sebagai contoh misalnya Helmholtz mendapatkan ide pemecahan permasalahan secara aneh ketika dia sedang mengerjakan pekerjaan lain, atau misalnya Kekule yang menemukan ide tentang struktur kimia Benzena terlintas pada sebuah mimpinya.(Fontana, 1981:139).
Tahap keempat, yakni tahap verifikasi merupakan tahap akhir dari sebuah proses kreatif. Pada tahap ini inspirasi yang jkuncul dikembangkan dan diuji secara kritis dengan uji laboratorium misalnya, atau menghadapkan dengan realita. Tahap-tahap bawah sadar yang menandai tahap inkubasi dan iluminasi kemiudian berganti dengan tahap sadar pada tahap verifikasi ini, kajian kritis rasional merupakan ciri pokok tahap ini dan pemikiran-pemikiran divergen diperas untuk masuk pada pemikiran konvergen, hungga yang muncul kemudian adalah ide kreatif terbaik yang telah teruji secara rasional.
Masih ada pemikir lain yang mengungkapan tahap-tahap berpikir kreatif ini, namun selain gagasan kuncinya hampir senada dengan apa yang dikemukakan oleh Wallas ini juga pendapat Wallas lah yang saat ini dianut oleh banyak orang.


Rangkuman

1. Di era globalisasi, pengembangan kemampuan berpikir baik itu berpikir nalar maupun kreatif merupakan hal yang tidak bisa diabaikan
2. Berpikir kreatif atau berpikir divergen (Guilford) atau berpikir lateral (De Bono), oleh utami Munandar dilukiskan sebagai kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, di mana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan dan keragaman jawaban”.
3. Kemampuan kreatif ditandai dengan adanya: kelancaran, keluwesan, keaslian dan elaborasi.
4. Berpikir kreatif dalam pelaksanaannya melalui empat tahap berpikir, yakni persiapan, inkubasi, iluminasi dan verifikasi.

1 komentar:

ezs badawie mengatakan...

Mengapa berpikir kreatif? Adakah berpikir yang tidak menunjukkkan kreativitas? Berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Terimakasih.